Jumat, 02 Oktober 2009
Bandung Kota Ternyaman?
Tinggal di wilayahnya bupati, tapi sehari-hari saya mencari uang di daerah kekuasaan wali kota. Saya menghabiskan sebagian besar waktu di Kota Bandung, kota legendaris yang konon katanya berjulukan “Parisj van Java”, entah apa sejarahnya sampai ada kalimat itu keluar dari mulut orang-orang Belanda dan Inggris yang akhirnya dibangga-banggakan penduduk lokal. Sampai-sampai ada pusat perbelanjaan di kota ini yang namanya identik dengan julukan itu.
Sedikit cerita, banyak versi kenapa Bandung disamakan dengan Ibu Kota Prancis. Salah satunya, konon orang eropa tetua yang datang ke kota ini menilai WTS Kota Bandung sama cantiknya dengan perempuan penjaja cinta di Kota Paris, mengerikan. Apa kita patut berbangga Bung? Ada juga yang bercerita bule-bule kompeni yang datang ke kota ini terkagum-kagum melihat konstruksi bangunan kota yang menurut mereka seindah Paris, di samping berbabagai versi lainnya.
Tapi, melihat fakta dan kondisi saat ini, saya tidak percaya pada dua versi itu. Coba kita sebut dalam bahasa Indonesia. “Parisnya Pulau Jawa,”. Sekali lagi, “Parisnya Pulang Jawa,” apa iya Bung? Anda saja yang menjawab. Saya sudahi sedikit ceritanya dan balik ke substansi tulisan.
Tuntutan hidup. Ya itu dia yang mengharuskan saya berlelah-lelah setiap hari. Menyusuri jalan lintas kabupaten-kota. Tuntutan mencari uang. Cape jika dipikir-pikir. Oh, iya, sekadar informasi, jarak yang saya tempuh setiap harinya tidak kurang dari 30 km pulang-pergi. Informasi selanjutnya, saya pengguna motor. Untungnya dimotor saya tidak ada tulisan “Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP)”
Yups, saya seorang komuter, pejuang tangguh luar biasa, tak mengenal lelah, dan tak menuntut gaji besar pada perusahaan. Patut dijadikan pegawai teladan oleh tempat dimana saya bekerja. He he he he. Ahh, selesai juga pamer nasibnya, sekarang ke substansi pokok tulisan.
Ok, lets talk about Kota Bandung yang menurut salah satu lembaga survei didaulat menjadi kota ternyaman di republik ini. Tak urung hasil survei itu menuai kontroversi. Ada yang setuju, namun lebih banyak yang tidak, bahkan ketidaksetujuannya dibumbui dengan sumpah serapah. Sumpah serapah-sumpah serapah itu akan saya ceritakan di bagian lain.
Yups, saya termasuk salah seorang dari sedikit yang menyatakan setuju. Tegas, saya setuju dengan gelar Bandung kota ternyaman. Bahkan jika dipikir-pikir kenapa juga banyak orang yang memilih tinggal di luar negeri, padahal di sini, bisa dibilang surga dunia. Sangat nyaman tinggal di Kota Bandung.
Oke, saya coba paparkan kenyamanan-kenyamanan itu. Di luar negeri, di Kota Delft, Belanda misalnya, berdasarkan cerita teman (terdekat), jika kita menuju tempat tujuan tidak ada kendala berarti yang malah membuat perjalanan menjadi tidak seru, tanpa tantangan. Tinggal pakai sepeda lalu sampai atau gunakan trem jika agak jauh. Di seluruh negara bagian di AS, menurut cerita bokap, sistem lalu lintas sudah computerise full. Jadi, jika kita tak memiliki SIM, ketahuan polisi, tertangkaplah kita. Tak nyaman bukan?
Di Bandung, kita disuguhi banyak fasilitas. Fasilitas untuk melihat dan belajar tingkah laku banyak orang saat kita melakukan perjalanan ke tempat tujuan. Kita juga bisa melatih mental kita. “Anger Management” lebih terasah. Atau memandang perempuan atau laki-laki yang menarik minat mata lebih lama. Ya, kita di Bandung punya fasilitas kenyamanan yang disebut MACET. Manfaatkanlah fasilitas yang didapat warganya setiap pagi di hari kerja. I fed up with trafic jam.
Kenyamanan lainnya, jika kita tidak punya surat-surat berlalu lintas, atau melanggar UU. No14 Tahun 1992 tentang lalu lintas, maka kita bisa berdamai dengan si penegak UU itu. Keluar uang sedikit lah untuk yang tidak mengenakan helm, atau agak banyak untuk yang lupa bawa SIM dan juga bagi yang tidak punya surat izin itu. Nyaman Kan?
Di sini, penduduknya mudah membeli kendaraan. Caranya, kredit lewat perusahaan leasing yang menjamur. Jadi lihat, jika Anda berangkat sekolah atau bekerja pada pagi hari saat berhenti di lampu merah, kendaraan roda dua bejubel. Kendaraan yang tadinya diharapkan jadi solusi kemacetan malah menciptakan antrian parah, bahkan jadi makhluk pembunuh. Pihak Kepolisian Wilayah Kota Besar Bandung menyatakan tahun lalu jumlah kecelakaan roda dua yang menimbulkan korban jiwa sebanyak ratusan kasus, baik kecelakaan tunggal ataupun kecelakaan yang melibatkan banyak kendaraan.
Kota Bandung surganya wisata kuliner dan belanja. Saking surganya, kita bisa seenak udel memarkirkan kendaraan di pinggir jalan untuk belanja baju bermerk bonafit setengah asli (palsu) di FO-FO dan dilanjutkan makan di restaurant tak berizin. Bahkan kadang cuek saja, sampai ke badan jalan. Tidak ada tempat parkir khusus. Jadi, peduli amat sama orang lain yang tidak nyaman.
Mau usaha? Gampang. Di sini, dari usaha kecil-kecilan sampai usaha hotel bisa diatur. Kalau kita hanya punya modal kecil, tinggal beli lapak, mau jualan apa saja bisa dimana saja, atur saja Bung. Lihat, di Jalan Ir H Djuanda (Dago) saat malam, banyak lapak kaki lima dan kios-kios yang berjualan. Padahal kawasan itu masuk dalam kawasan hijau dan tidak boleh dirusak. Punya modal agak besar? Mau mendirikan hotel?, gampang. Tinggal punya banyak duit untuk dibagi-bagikan, ya dirikan.
Mall? Sama, mau berapa tingkat pun, hajar. Jadilah, kota yang dibanggakan karena pepohonannya dulu, penuh dengan usaha-usaha yang konsekuensinya menebang pohon. Konon, aturan tentang batas tinggi bangunan pun dilanggar. Hutan kota yang tinggal sedikit, digunduli untuk mendirikan restaurant.
Di luar negeri, disediakan tempat bagi yang merokok. Di sini, nyaman. Kita bisa merokok seenaknya, bahkan di angkutan kota sekalipun. Peduli amat ada bayi. Yang penting, gue nyaman. Bahkan di tempat ber-AC pun, cuek, kita bisa merokok. Padahal, itu berisiko bagi paru-paru kita dan orang lain. Pejabat yang satu bilang, “Kurangi rokok,”, pejabat lainnya, “Mari kita merokok, diamkanlah pejabat itu, toh kita beda partai,” katanya. Sangat nyaman bukan?
Dan sampah. Kota ini tempat sampah besar. Kita bisa membuang sampah dimana saja. Di luar negeri, jangan harap bisa. Sampah apapun, kita tidak usah susah-susah cari tempat sampah, buang saja. Kota ini tempat sampah terbesar di dunia. Terluas. Bahkan kota ini pernah dijuluki Bandung Lautan Sampah pelesetan dari Bandung Lautan Api. Nyaman bukan?
Konon, di kota ini, atau bahkan di negeri ini, peredaran buku tidak dibatasi. Buku-buku bercontent hasil pemikiran ideologi, ada Karl Marx, Lenin atau karangan Stalin bebas beredar. Semua bisa membacanya. Tapi sayang, kenyamanan yang ini tidak dimanfaatkan penduduknya. Padahal setiap warga bisa bebas membaca buku-buku itu dimana saja tanpa harus takut. Sayang.
Begitupun juga website di internet. Bebas, tanpa ada batas. Di kantor-kantor pemerintahan, para abdi negara bisa mendownload film porno jika sedang tidak ada kerjaan. Bahkan mengutamakan downloadnya daripada kerjanya. Mumpung gratisan dan dibayar uang rakyat. Atau bisa juga membaca situs-situs yang dianggap dapat mencuci otak kita. Sangat nyaman bukan?, di luar negeri belum tentu bisa Bung.
Dan, jika Anda memiliki jiwa petualang dan pencari tantangan ada wahana penyalur bakat dan hobi Anda di kota ini. Anda bisa keluar lewat pukul 12 malam menggunakan sepeda motor. Bisa jadi, Anda menemukan fasilitas geng motor yang digawangi para anak muda labil yang sedang mencari jati diri. Sebagai petualang, Anda bisa bertarung melawan mereka yang jika Anda sedang beruntung, Anda bisa melihat kelihaian mereka menggunakan samurai, toya, tongkat dan lainnya. Mereka bertarung tanpa skill bela diri mumpuni, langsung keroyok. Tak sedikit korban jiwa akibat perbuatan labil mereka itu.
Itulah sedikit dari banyak alasan Kota Bandung menjadi salah satu kota ternyaman di Indonesia bahkan dunia. Saya berharap, satu saat Kota Bandung menjadi kota yang tidak nyaman dengan aturan ketat yang diimplementasikan dan dipatuhi masyarakatnya. Jika Anda punya alasan lain, bisa dipaparkan, di media apapun yang Anda punya. Terimakasih. ∆
Kamis, 27 Agustus 2009
Menyapa Rakyat, Dengan Damai
Mahkamah Konstitusi (MK) sudah memutuskan. Sembilan hakim konstitusional menolak semua gugatan sengketa Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun ini. MK menilai tidak ada kecurangan yang terencana, masive dan terstruktur. Pemilu tetap dengan hasil yang sudah diputuskan, tidak ada pemilu ulang atau pun pemilu putaran ke-dua.
Dengan keputusan itu, ada pihak yang puas, tentu juga ada yang tidak. Pihak yang diuntungkan dengan keputusan MK, si termohon dan peserta nomor 2, berseri-seri. Sementara kubu nomor 1 dan nomor 3 berang, meski, mungkin dengan keterpaksaan, akhirnya menerima. This is reality dude, walau kadang, salahnya manusia, adalah tidak suka dengan realitas.
Saatnya sekarang untuk membenahi negeri ini, untuk yang menang, pun bagi yang takluk. Jangan mempolitisasi kondisi dan situasi negeri ini. Jangan pernah ada politik drama lagi yang seolah-olah tersakiti. Rakyat bosan dengan konflik para elite. Ketiga pasangan calon mesti menjadi pahlawan republik. Jangan bosan untuk menyapa rakyat, meski lewat jalan yang berbeda, bukan sebagai presiden atau wakil presiden, tapi sebagai pahlawan bagi bangsa. Pahlawan demokrasi.
Jangan lelah untuk berjuang bagi bangsa ini. Walau beginilah akhirnya, Anda tetap kalah. Namun Anda, sama sekali bukan pecundang. Setidaknya, Anda semua sudah membuktikan pada dunia, bahwa kami bisa, kami bisa menjalankan demokrasi. Tidak ada anarkis, saat kekecewaan memuncak. Tidak ada kekerasan saat beranggapan aturan sudah dinafikan. Meski pada akhirnya, Anda menggugat, namun mungkin itu bagian dari pembuktian tadi, bahwa kami bisa menjalankan demokrasi sepenuhnya, tidak setengah-setengah. Meski, untuk hasil dan penyelenggaraan, sebagian dari kami, termasuk saya mungkin sama sekali tidak puas.
Dan MK adalah lembaga yang memiliki legitimasi dari rakyat untuk memutuskan, semua harus tunduk pada peradilan regulasi ini. Keputusan MK sudah menjadi kebijakan hukum yang kuat. Banyak hal yang perlu dibenahi, sehingga ke depannya, Pemilu ‘tidak lagi membutuhkan’ lembaga seperti MK, maupun Mahkamah Agung (MA). Tapi cukup hanya memperkerjakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Saya tidak akan membeberkan apa-apa yang perlu dibenahi, karena itu sudah terus dikumandangkan oleh para pakar. Dan mudah-mudahan, semua pihak mendengar.
Ada yang bilang, Pemilu adalah pesta bagi rakyat. Dan pesta merupakan sesuatu yang menggembirakan, bukan malah menciptakan konflik. Pemilu adalah pesta yang memudahkan, bukan malah menyulitkan. Tidak akan ada orang yang datang ke pesta, jika ternyata pesta itu malah menghambat dirinya untuk mengeksplorasi. Jadi, Pemilu nanti, bangsa ini harus merealisasikan ungkapan Pemilu adalah benar-benar Pesta bagi rakyat.
Akhirnya, rakyat lega sekarang. Semua sudah bisa menerima. Sesuai janji yang diucapkan dulu, sebelum Anda berkompetisi. “Siap Menang Siap Kalah”. Lalu, jika Anda malas untuk mengucapkan selamat pada pemenang, pura-puralah. Tersenyum dan ucapkan selamat. Demi rakyat. Jika Anda masih menaruh rasa dendam, masih ada lima tahun lagi. Jangan perlihatkan dendam Anda sekarang. Demi rakyat. Dan jika Anda masih belum puas dengan putusan-putusan yang ada, Anda harus menerima, dengan keterpaksaan atau tidak. Semua itu, demi rakyat, demi Bangsa dan demi Indonesia. (krisiandi sacawisastra)
Tulisan dibuat sesaat setelah keputusan MK
Minggu, 26 April 2009
Sudah Bisa Mandiri Meski Tak Ada Hari Tanpa Terapi

| | |
| Tepat dua tahun lalu,Mochamad Ma’ruf terpaksa meninggalkan semua kesibukannya sebagai Menteri Dalam Negeri (Mendagri) di Kabinet Indonesia Bersatu.Stroke menyerangnya di suatu subuh,April 2007.Didampingi orang-orang terkasih,dia menjalani pengobatan dan terapi.Apa kabarnya M Ma’ruf kini? SUATU subuh medio April 2007, sekitar 04.30 WIB. Biasanya, M Ma’ruf terbangun dan bergegas salat subuh.Namun tidak pagi itu.Istrinya, R Susyati Ma’ruf, justru mendapatkan sang suami tak sadarkan diri.Perempuan itu kaget, panik,dan syok. ”Kok Bapak nggak bengunbangun?” tanyanya dalam hati. Susyati memegang pergelangan tangan pria yang dicintainya itu untuk memeriksa denyut nadi. ”Ah, Masih ada,” ucapnya, agak lega. Susy cepat-cepat memanggil anak pertamanya yang kebetulan seorang dokter, Peny Wahyuprasetyaningsih. Kebetulan mereka masih satu rumah. ”Setelah memeriksa kondisi Bapak, anak saya langsung merujuk Bapak ke Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta. Alhamdulilah selamat dan belum terlambat meski diketahui klep jantungnya sempat bocor,” tutur Susy, 62,kepada Seputar Indonesia yang berkunjung ke rumah pribadi M Ma’ruf yang sederhana dan asri di Jalan Parakan Arum No 21 Kota Bandung, beberapa waktu lalu. Setelah dirawat di RS Harapan Kita, purnawirawan jenderal TNI bintang 3 ini menjalani pengobatan di RSPAD Gatot Soebroto,Jakarta kemudian dirujuk ke Mount Elizabeth Hospital di Singapura. Saat itulah Ma’ruf yang ditangani tim dokter kepresidenan, dipastikan menderita stroke berdasarkan diagnosis dokter. Ma’ruf yang menyempatkan diri menemui Seputar Indonesia, tampak berusaha menyapa ramah dan tersenyum. Dengan gerakannya, pria kelahiran Tegal, 20 September 1942 itu, menawarkan minum. Meski sulit berbicara dan hanya beberapa tutur kata, dia terus mengumbar senyum. Tak sampai lima menit,mantan duta Besar Indonesia untuk Vietnam itu harus kembali masuk ke dalam sebuah ruangan di rumahnya untuk menjalani terapi. Menurut Susy,kondisi suaminya saat ini sudah sangat membaik dan dapat melakukan kegiatan layaknya individu sehat. Mantan Gubernur Akademi Militer Magelang ini sudah bisa berjalan sendiri, mandi sendiri, dan dapat makan secara mandiri. ”Tapi memang tidak akan bisa lagi seperti semula karena stroke kan memang seperti itu.Pokoknya, Bapak tidak seperti bayangan banyak orang terus terbaring dan lemah.Hanya bicara yang agak sulit karena syaraf bicaranya yang paling kena,”ujar Susy. Menurut Susy, karena suaminya tidak lancar bicara, dialah yang menjadi juru bicara setiap bertemu tamu atau siapa pun termasuk wartawan. ”Bapak paling hanya bisa menemui tamu beberapa menit saja,”tuturnya. Bagi ketua Tim Sukses Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) - Jusuf Kalla (JK) pada Pilpres 2004 lalu ini, tidak ada hari tanpa terapi. Di rumah, dia menjalani speak therapy dan terapi tangan. Di luar itu, Ma’ruf sering kali berjalan-jalan mengelilingi komplek rumahnya atau sekadar mengelilingi meja makan di ruang tengah kediamannya. ”Tak nyaman memang, tapi ini harus terus dilakukan untuk memperbaiki kondisinya. Saya sangat bersyukur dengan semangat Bapak yang sungguh luar biasa,”ucap Susy. Selain di rumah, mantan Kasospol ABRI berpangkat letnan jenderal itu saat ini juga menjalani terapi di sejumlah tempat.Seminggu dua kali, Kamis dan Sabtu, Ma’ruf ke pemandian air panas di Ciater,Kabupaten Subang, untuk berendam. Anak dan istrinya selalu setia menemani. Setiap hari,kemana pun pergi, Ma’ruf dikawal dua perawat, termasuk jika dia ke kamar mandi. ”Meski jika mandi bisa sendirian, namun tetap harus dikawal.Takut ada apa-apa. Jika salat jumat, para perawat juga mendampingi,” kata Susy. Tak jarang, Ma’ruf menghadiri acara-acara kemasyarakatan seperti pengajian dan lainnya. Ayah dari Peny, Yani Endah, dan Dewi Tri ini dalam pantauan dokter-dokter ahli syaraf dan penyakit dalam dari RS Hasan Sadikin dan RS Muhammadiyah Bandung. Jika dirasa ada sesuatu yang mengganggu kestabilan tubuh Ma’ruf,dokter-dokter tersebut siap siaga untuk dipanggil, jam berapa pun. Lantas, adakah penyesalan di benak Susy akan kesibukan suaminya di kabinet dulu yang kemungkinan menyebabkan pria terkasih itu mengalami stroke? ”Tidak. Tidak ada penyesalan apa pun. Persaaan seperti itu tidak ada karena semua hal dalam hidup kami syukuri. Kalau pun Bapak pernah sibuk sekali sebagai menteri, itu pun kami syukuri,” jawabnya. Susy mengungkapkan, selama ini beberapa pejabat negara rutin menengok suaminya. Pada 13 Maret 2009 lalu,Presiden SBY sempat menengok ke rumah. Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla juga melakukan hal yang sama.” Mereka semua teman-teman baik Bapak.Kehadiran mereka penyemangat untuk kesembuhan. Syukurlah mereka semua masih selalu ingat dengan Bapak,” kata nenek dari lima cucu ini. Dukungan Moral bagi SBY Pada 2004, Ma’ruf sebagai pimpinan tim sukses,berhasil mengantarkan SBY-JK ke kursi presiden dan wakil presiden. Setelah itu,dia diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri. Saat ini, ketika fisiknya tak lagi mendukung,Susy mengatakan, Ma’ruf masih sepenuhnya mendukung SBY, meski tak lagi menjadi tim sukses. ”Secara moral,Bapak masih di belakang SBY. Masih memberikan dukungan dan terus membantu dengan doa,”ujar Susy. (krisiandi sacawisastra) |
Senin, 06 Oktober 2008
Babakan Siliwangi:Ruang Hijau yang Terluka
Sunday, 05 October 2008
Daerah Babakan Siliwangi (Baksil) kembali menjadi polemik.Salah satu ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Bandung ini terus ”terluka”oleh proyek pemerintah kota (Pemkot).
Penyebab kekisruhan di daerah ini terjadi ketika Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya (Distarcip) Kota Bandung yang saat ini di bawah komando Juniarso Ridwan mengeluarkan izin mendirikan bangunan (IMB). Izin tersebut diberikan kepada pengembang PT Esa Gemilang Indah (EGI) untuk membangun restoran.
Kontroversi pembangunan di kawasan Baksil sebenarnya sudah muncul sejak lama. Puncaknya, saat ada rencana Babakan Siliwangi yang merupakan ruang terbuka hijau alamiah akan dibangun kompleks cottage pada 2001. Di dalamnya tak hanya akan dibangun rumah makan dan pusat kesenian, namun juga dibangun apartemen.
Akan tetapi setelah beberapa tahun, isu pembangunan tersebut tidak terdengar. Permasalahan kembali dipicu dengan keluarnya IMB dari Distarcip. Rencana ini kontan membuat para aktivis lingkungan, seniman Baksil,dan beberapa warga Kota Bandung bereaksi.
Pemkot Bandung bergeming dan belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait rencana pembangunan ini.Wali Kota Bandung Dada Rosada masih enggan mengeluarkan pernyataannya soal Baksil. ”Saat ini masih dikaji Amdal (analisis mengenai dampak lingkungan) dan bukan hanya faktor lingkungan. Di dalamnya juga dikaji faktor sosial, ekonomi, lalu lintas, dan lain-lain. Dibutuhkan waktu lama untuk mengkaji hal tersebut.Jika nanti sudah ada hasilnya, kami akan terbuka pada masyarakat,” ujar Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bandung Nana Supriatna beberapa waktu lalu.
Sementara itu, Juniarso mengatakan, pihaknya akan tetap membangun restoran di Baksil. ”Apa salahnya kami membangun kembali? Toh sebelumnya pernah ada restoran, kenapa harus diributkan?” tanya Juniarso.
Pada2003,PemkotBandung menjalin perjanjian kerja sama (PKS) dengan PT Esa Gemilang Indah untuk membangun rumah makan di Babakan Siliwangi. Kini rencana itu kembali mengemuka. Lahannya menggunakan lahan bekasrumahmakanmilikPemkot Bandung yang terbakar.
Hingga saat ini tidak ada pihak yang mau terbuka soal PKS dan apa isi perjanjian tersebut, termasuk PT EGI yang tidak mau pernyataannya diekspos mediamassa.PemkotBandung pun sama, mereka tidak mau perjanjian tersebut dibuka kepada publik.
Sementara, Ketua DPRD Kota Bandung Husni Muttaqin terus meyakinkan pemkot bahwa pembangunan di Baksil melanggar Perda No 2/2004 tentang Rencana Ruang Tata Kota dan Wilayah (RTRW) Kota Bandung. Dia mengatakan bahwa kawasan tersebut tidak boleh dialihfungsikan dari fungsi idealnya sebagai ruang terbuka hijau (RTH). Dia mengungkapkan,wakil rakyat secara kelembagaan sebetulnya telah menyetujui pembangunan di kawasan Baksil.
”Dulu persetujuannya kan hanya membangun kawasan seni,bukan sebagai kawasan komersial. Lagi pula ada hal-hal tertentu yang menjadi syarat pengembang membangun di kawasan Baksil, salah satunya harus meremajakan tanaman,”ujar Husni.
Pembangunan restoran ini diprediksi akan memakan lahan seluas 5% dari total luas Baksil yang mencapai 3,8 hektare. Sekretaris Komisi A DPRDKotaBandung Tedy Rusmawan pernah mengatakan bahwa pendirian restoran yang memakan lahan lebih dari 300 meter persegi itu akan sangat kontraproduktif dengan rencana jangka panjang untuk RTH yang sudah disepakati awal 2008.
Pemkot sudah sepakat menambah RTH sampai 9% dari total wilayah kota.Saat ini Bandung baru memiliki 1.466 hektare ruang hijau atau sekitar 8% dari total wilayah kota.
Menurut anggota Komisi A DPRD Kota Bandung Lia Noer Hambali, sistem pemberian izin mendirikan bangunan (IMB) di Kota Bandung harus dievaluasi dan diperbaiki. Pihaknya akan mengevaluasi secara menyeluruh sistem yang dianggap salah tersebut. Selama ini,sambungnya,pemkot cenderung jarang melibatkan DPRD.
Pemkot hanya melibatkan DPRD bukan untuk hal-hal yang menyangkut kepentingan masyarakat.Lia menilai masih belum terbentuknya tata ruang di Kota Bandung terjadi karena pejabat yang terkait tidak peka terhadap perda dan aspirasi masyarakat. Karena itu, seharusnya dilakukan penertiban perda yang mengatur sanksi bagi pejabat yang mengeluarkan IMB dan bisa merugikan masyarakat.
”Perda itu harus mengatur sanksi,mulai penurunan pangkat sampai ke pemecatan,”kata Lia. Aktivis lingkungan dan seniman Rahmat Jabaril mengatakan, dia dan teman-temannya akan menyiapkan gugatan class action jika pembangunan restoran besar, anjungan seni,juga lahan parkir jadi dilaksanakan.
Dia akan menunggu terlebih dulu langkah DPRD yang akan memanggil Distarcip. Jika tidak ada hasil yang memuaskan, masyarakat siap untuk melakukan class action.
(krisiandi sacawisastra)
Selasa, 16 September 2008
Kecil itu Bukan Kiamat
Jika orang besar itu hanya harta dan jabatan yang jadi ukurannya, mending saya mulai berpikir jadi orang kecil. Kecil yang bersahaja. Bukan kecil yang parasit. Kecil yang bisa mengatur diri, bukan kecil yang hidup dalam kekosongan. Kecil yang damai, bukan kecil sengsara. Dan yang terpenting, kecil yang tidak munafik.
Harta? Uuhh I love that, but I don’t need too much. Cukup untuk memberikan saya ketenangan dalam menjalankan hidup. Jabatan? Ingat di atas angginnya kencang, Bung. Bukan saya puas dengan keadaan saat ini, tapi, sekali lagi, jadilah kecil yang terbaik.
Saya mencoba berfikir menjadi yang terkecil pun tidak masalah. Asalkan tidak menyusahkan orang lain. Saya mencoba bersyukur dan masih berusaha keras untuk tidak mengeluh atas situasi kekecilan saya ini.
Badan saya kecil (kurus) dan didiagnosa tidak bisa membesar, oke. Orang tua tidak kaya, oke. Gaji saya tidak gede, saya nikmatin kok. Saya tidak punya mobil pegangan seperti teman-teman saya, so what?, saya tidak bisa liburan ke Bali atau ke luar negeri, no problem. Yang terpenting saya punya diri saya, saya bisa hidup tentram dan damai dengan diri saya itu. Dan di atas segala situasi kekecilan ini saya percaya bahwa Tuhan sayang manusiaNya. Dia pasti memberikan semua yang kita perlu. Saya ingat perkataan bapak saya, bahwa orang besar adalah orang yang bisa menerima kenyataan hidup, dan tidak menyerah saat situasi menjadi lebih berat. Orang besar adalah seorang pejuang hidup. Seperti dia, kalau menurut saya.
Dan di atas situasi kekecilan saya ini, ternyata ada yang mau juga sama saya. Saya punya pacar, Bung. Hohoho..
Ternyata, kecil itu bukan kiamat, yah?! Dan besar bukan selalu menjadi hebat. Anda betul bung Samuel Mulya. Hohoho….
Senin, 01 September 2008
lagu,,,,
When I was just a little girl
I asked my mother, what will I be
Will I be pretty, will I be rich
Here's what she said to me.
Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be.
When I was young, I fell in love
I asked my sweetheart what lies ahead
Will we have rainbows, day after day
Here's what my sweetheart said.
Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be.
Now I have children of my own
They ask their mother, what will I be
Will I be handsome, will I be rich
I tell them tenderly.
Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be.
Senin, 04 Agustus 2008
Demokrasi di Negara Mayoritas Muslim
Suatu hari teman saya yang bekerja di media besar di
Teman saya itu melemparkan wacana, tapi isu itu lewat begitu saja, tanpa ada tanggapan yang berlebih dari teman-teman yang lainnya. Saya pun begitu, karena selepas itu, kami, yang berjumlah empat orang langsung berdiskusi dengan tema yang lain. Ketika itu kami berada di sebuah café di kawasan Setiabudhi,
Kami berdiskusi hingga larut malam. Dengan tema yang bermacam-macam, namun obrolan tentang pembunuhan demokrasi itu, sama sekali tidak tersentuh lagi. Sampai akhirnya, menjadi pikiran buat saya. Saat saya pulang menuju rumah, dengan motor yang saya kendarai, pikiran saya terus berputar hingga akhirnya menciptakan pertanyaan, “Demokrasi yang sejati, dapatkah di jalankan?”
Apalagi di negara dengan penduduk mayoritas muslim seperti
Banyak yang menilai bahwa ajaran Islam sangat bertentangan dengan substansi demokrasi yang sesungguhnya. Islam, dalam pandangan beberapa paham, adalah agama otoriter yang berhukum sangat fundamental dan teks book. Sulit untuk berpikiran terbuka dan susah untuk mengalirkan pemikiran moderat.
Namun saya menilai, bukan karena saya penganut Islam (Islam saya masih berstatus Islam turunan), kaidah Islam dapat berbanding lurus dengan esensi dari demokrasi. Dapat sejalan dan seirama. Dengan spirit keislaman, orang-orang Islam yang taat terhadap hukum Islam dapat menjalankan demokrasi dengan baik.
Adanya isu Mayoritas-minoritas di satu negaralah yang dapat menghambat demokrasi. Bahkan negara yang menjadi “sang nyonya besar” (baca: Amerika), dalam menjalankan demokrasi pun tetap kesulitan memfungsikan arti sejati demokrasi. Salah satu kelompok agama di Amerika yang bernama White Anglo Saxon Protestant (WASP) mempunyai semacam “hak” yang lebih dibanding kelompok agama yang lainnya. WASP adalah kelompok mayoritas di Amerika. Ke-idealan demokrasi tidak dijalankan sepenuhnya oleh Amerika dengan adanya “hak” yang lebih besar itu.
Di Indonesia, sebagai negeri dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, demokrasi tetap dijalankan. Dengan makna sejati dan sesuai dengan kontekstualnya atau tidak sangat relatif. Dalam konteks politik, ada bukti sahih yang membuat dunia bertepuk tangan untuk adanya eksistensi demokrasi negeri ini. Adalah ketika bangsa
Islam di Indonesia masih bisa berdemokrasi. Tudingan yang mengarah pada akan tumbuh suburnya Islam radikal di negeri ini, terjawab oleh keberhasilan menjalankan fungsi demokrasi itu.
Islam di Indonesia tetap Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai keislamannya namun telah berusaha untuk menjadi penganut demokrasi. Banyak tokoh Islam dari
Terlepas dari konteks politik, Islam di Indonesia masih belum dapat menyentuh hati seluruh penganutnya untuk dapat menjalankan demokrasi seutuhnya. Aspek Sosial masyarakat muslim di sini menjadi semacam faktor pendorong untuk berbuat “semau gue”. Kasus penyerangan dan penghancuran rumah-rumah ibadah masih sering ditemukan di sini. Seperti yang terjadi di Kuningan baru-baru ini, saat masyarakat menyerang tempat ibadah umat Islam Ahmadiyah.
Adanya kasus-kasus seperti itu bukan berarti kran demokrasi sulit untuk dibuka, namun masih harus terus didorong untuk dijalankan. Musuh demokrasi bukan agama, melainkan faktor sosial yang menjadi masalah laten seperti kemiskinan dan kebodohan. Dua hal itu dapat membuat isu mayoritas –minoritas dan kecuriagaan terhadap keyakinan yang lain muncul secara signifikan. Kecuriagaan itu seperti Islam takut akan kristenisasi dan kristen takut terhadap islamisasi. Hal-hal itu lah yang menghambat demokrasi.
Islam atau umumnya agama adalah modal untuk mengajarkan bangsa ini berdemokrasi. Keberagamannya adalah faktor kuat untuk melihat demokrasi dengan hati. Kondusifnya kehidupan beragama di tengah kedinamisan islam dan agama lainnya di
Titik mayoritas-minoritas harus ditempatkan dalam kebebasan yang berkeadilan sosial. Itulah, menurut saya, yang membuat demokrasi dapat dijalankan sesuai dengan substansinya. Kebebasan berkeyakinan harus dihormati. Penilaian tentang kesesatan dalam berkeyakinan harus dilihat dari berbagai aspek. Seperti historis dan arti dari kesesatan itu sendiri. Intinya, demokrasi bisa berjalan di negara dengan mayoritas penduduk muslim, saya menjamin itu.
Pembunuhan Bhuto tidak akan membunuh demokrasi. Itu hanya pekerjaan orang-orang yang menilai bahwa agama adalah alat untuk berbuat “semau gue”.
Saya, Krisiandi Sacawisastra